Maret 2013, Ultra Music Festival di Miami. Di atas panggung adalah Avicii yang menampilkan lagu baru. Tidak ada drop, dimulai dengan ukulele dan gitar bluegrass. Respons penggemar EDM sangat biasa saja. Beberapa pergi. Beberapa bergumam "Ini bukan EDM." Empat bulan kemudian, lagu yang sama "Wake Me Up" secara bersamaan mencapai #1 di 22 negara. Hari ini melebihi 2,4 miliar streaming. Ini adalah cerita tentang bagaimana seorang produser muda Swedia menghancurkan batas-batas industri musik.

Tim Bergling, Seorang Jenius Yang Tidak Sendirian
Tim Bergling (nama asli Avicii) lahir di Stockholm pada 1990. Pada usia 11 tahun, dia menemukan perangkat lunak musik di komputer. Pada usia 15 tahun, dia sudah mengunggah lagu-lagunya ke YouTube. Tetapi Tim awal adalah produser EDM murni. Synthesizer, synthesizer, synthesizer. Hampir tidak ada instrumen akustik.
Saat menggubah "Wake Me Up," Tim ingin mencoba sesuatu yang berbeda. Dia mulai menggubah dengan Aloe Blacc (seorang vokalis R&B Amerika) dan mengundang gitaris Incubus Mike Einziger. Hasilnya tidak terduga: drum elektronik, gitar akustik bluegrass, dan vokal Aloe yang sendu berpadu dalam lagu berdurasi 4 menit 25 detik.
"Setelah dibuai di Ultra, aku sangat putus asa. Tetapi reaksi itu mengajariku sesuatu: inovasi sejati selalu ditolak pada awalnya."— Tim Bergling (Avicii), Wawancara
Dari Buaian Ultra ke Spotify 100 Juta dalam 4 Bulan
Reaksi Ultra Festival ditutup oleh media. Jurnalis musik menulis "Penggemar EDM menolak arah baru Avicii." Tetapi kebenaran adalah sebaliknya. Audiens umum, terutama pengguna Spotify dan YouTube, sangat antusias.
"Wake Me Up" mencapai 100 juta streaming di Spotify hanya dalam 4 bulan setelah peluncuran. Ini adalah rekor tercepat di masa itu. #1 di 22 negara secara bersamaan. Di Korea juga, lagu itu dipuji di puncak bagan musik sebagai "Can EDM be this warm?"
Kritikus musik Korea menggambarkan "Wake Me Up" seperti ini: "Seperti cyberpunk berjalan melalui desa pedesaan." Itu adalah deskripsi sempurna.
Jiwa Aloe Blacc dan Gitar Mike Einziger
"Wake Me Up" tidak bisa berhasil tanpa vokal Aloe Blacc. Tanpa dia, ini akan tetap menjadi lagu EDM sederhana. Aloe adalah yang pertama memahami makna lagu.
Inti lagu adalah ini: "Feel the warmth, it's coming / Soon you will see / So close your eyes / On me." Ini bukan bangun dari emosi negatif, tetapi bangun menjadi harapan.
Dan gitar bluegrass Mike Einziger. Mengapa gitaris utama Incubus akan berpartisipasi dalam trek EDM? Jawabannya sederhana: Tim memintanya. Dia percaya pada bahasa musik yang melampaui genre.
"Tim mengatakan kepadaku: 'Instrumen klasik dan synthesizer tidak bertarung; mereka berbicara.' Itu meyakinkanku."— Mike Einziger, Gitaris
Titik Balik Sejarah EDM
Sebelum "Wake Me Up," EDM adalah 'musik dansa.' Milik klub, festival, dan budaya drag. Tetapi lagu ini meningkatkan EDM menjadi 'musik emosional.' Setelah kesuksesan ini, produser EDM menjadi lebih bebas. Menambahkan crash pad, instrumen dawai, bahkan vokal menjadi mungkin.
David Guetta, Calvin Harris, Swedish House Mafia dan master kontemporer lainnya berkembang suara mereka yang dipengaruhi oleh "Wake Me Up."
Apa Yang Dia Tinggalkan
Pada bulan April 2018, Tim Bergling meninggal pada usia 28 tahun. Kematiannya mengejutkan dunia musik dan penggemar. Tetapi dia telah meninggalkan cukup.
"Wake Me Up" terus diputar hari ini. Ratusan juta streaming per tahun. Masih bergema dari kafe Korea, bus, dan video rekomendasi YouTube. Ini bukan sekadar lagu tetapi warisan seorang produser.
Tim pernah mengatakan dalam wawancara: "Musik adalah emosi, bukan genre. Genre hanya kemasan." "Wake Me Up" adalah bukti sempurna dari filosofi itu.